Sejarah Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum
Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Jl. Kalimas Hulu Pal Sembilan Sungai Kakap Kubu Raya Kalimantan Barat, didirikan pada tahun 1984.M oleh almarhum KH. Abdul Hamid. Pendirian Pesantren ini bertujuan untuk mendidik putra-putri Indonesia Khususnya yang ada di pulau Kalimantan Barat yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat serta bangsa Indonesia. Putra-putri ini dibina menjadi generasi yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah serta mempunyai keterampilan dalam mengisi pembangunan masyarakat dan negara, terutama di dalam pendidikan dan dakwah.
Dengan berjalannya waktu Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum sedikit berkembang dengan menambah pendidikan formal di lingkungan pesantren, di antaranya adalah Taman Pendidikan Anak, Sekolah Dasar Islam dan Sekolah Menengah Pertama Islam.
Sejarah Singkat
Pada sekitar tahun 1960-an, di Jl. Kalimas Hulu Desa Pal Sembilan Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, terkenallah nama KH. Abdul Hamid Bin Marhaban, seorang pemuda yang alim dalam hal agama. Banyak penduduk sekitar yang belajar mengaji kepadanya, khususnya para pemuda-pemudi. Pada awalnya, mereka mengaji berangkat dari rumah namun lama-kelamaan ada yang mulai bermukim. Dengan semakin bertambahnya santri, maka pada tahun 1984.M K. Abdul Hamid timbul inisiatif untuk mendirikan pondok pesantren dengan tujuan menampung santri-santri yang datang dari daerah jauh sekitaran kalimantan Barat.
Pondok pesantren tersebut diberi nama “Nahdlatul Ulum” yang berarti Kebangkitan ilmu Agama. Pondok ini dibangun diatas tanah seluas 25 x 50 meter, milik beliau sendiri. Bangunan tersebut sangatlah sederhana dengan berupa dinding-dinding yang terbuat dari papan. Pada saat itu pengajaran masih menggunakan sistem klasik yakni bandongan dan sorogan. Dan pada sekitar tahun 1995-an sistem tersebut baru berganti menjadi sistem Madrasah Diniyah yang mengenal kelas berjenjang (kelas 1 sampai kelas 6).
Karena di pondok pesantren tersebut khusus diajarkan pelajaran agama saja, dengan berjalannya waktu situasi saat itu ilmu pengetahuan dan teknologi mulai digemari masyarakat, maka K. Abdul Hamid berinisiatif untuk membekali santri dengan ilmu pengetahuan umum. Untuk itu, pada tahun 2000-an beliau mendirikan Sekolah Dasar Islam. Dan sebagai wujud keberhasilan beliau dalam mendirikan lembaga ini, maka bangunan pondok yang dulunya hanya berbentuk papan, sudah berubah menjadi bangunan bertembok. Kemudian pada tahun 2005, beliau mendirikan Sekolah Menegah Pertama sebagai upaya agar santri bisa melanjutkan sekolah umum di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum.
Kemudian sekitar tahun 2006 pertengahan bulan April, beliau jatuh sakit Dan atas takdir Allah, pada tanggal 12 Agustus 2006 pukul 14.30, beliau wafat dengan tidak meninggalkan satu anak pun. Sebelum K. Abdul Hamid wafat beliau sudah berwasiat mengenai penggantinya dalam melanjutkan kepemimpinan pesantren, maka diangkatlah Seorang santri yang sangat dekat dengan beliau dan juga mahir dalam ilmu agama, namanya M. Anwar Syafei’i sebagai pengasuh Pesantren selanjutnya. Dan hingga saat ini pondok pesantren masih di pimpin oleh K. M. Anwar Syafei’i.
Saat ini, Madrasah Diniyah terdiri dari kategori Madrasah Diniyah (Madin) Ula dan Madin Wushtho namun belum memiliki NSM. Seluruh santri yang berada di pondok pesantren wajib mengikuti madin dan tidak boleh hanya mengikuti sekolah formal saja.
Dewan guru madrasah Diniyah rata-rata terdiri dari lulusan pondok-pondok pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, dan ada juga dari Pondok lain dan dari para lulusan Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum sendiri. Sehingga para lulusannya, Inshaa Allah dapat menghadapi dan bertahan atas segala perubahan dan permasalahn yang ada di dunia ini.
Program Pesantren
Pendidikan
Adapun lembaga Pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Nahdlatul Ulum Kyai haji Abdul Hamid antara lain:
Pendidikan Formal
Pendidikan Nonformal
Ekstrakurikuler
Fasilitas
Identitas Pesantren